And Life is Just Unfair
Aku kecewa. Aku kecewa.
Lebih tepatnya, aku marah sama diriku sendiri.
Rasanya tuh kayak bangun istana pasir yang baguus banget, trus ketika kita bermaksud untuk ngambil lebih banyak pasir, kita berdiri, terpeleset, dan menimpa hasil kerja keras kita. Menghancurkannya begitu saja. Meskipun kita tidak sengaja.
Well, aku belajar. Sungguh, aku belajar—lebih lama dari beberapa orang yang kutahu. Aku mengerjakan tugas. Aku menyelesaikan semua tugasku di rumah—lebih cepat dari beberapa orang yang kutahu. Aku bermaksud merencanakan semuanya ketika beberapa orang yang kutahu bilang, “Halah, ngapain sih kayak gitu, santai aja kali.” Aku benar-benar ingin mendapatkan nilai yang bagus ketika beberapa orang yang kutahu begitu mudah untuk mendapatkannya. Ketika mereka bahkan masih punya waktu untuk berjalan-jalan di malam sebelum hari ujian. Ketika mereka bahkan tidak perlu berusaha apa-apa… untuk mendapatkan apa yang aku sangat, sangat inginkan dan perjuangkan. Perasaan ini begitu menyebalkan.
Kadang-kadang aku merasa hidup ini nggak adil. (Oh ok, mungkin aku salah, tapi aku sedang tidak mood untuk membahasnya). Dalam kasusku, orang-orang berotak encer kadang-kadang cukup menyebalkan. Kayak, mereka cuma butuh baca buku sekali untuk memahami sesuatu, sedangkan aku harus berkali-kali, tanya sana-sini, dan itupun belum cukup untuk mencapai tingkat yang setara dengan mereka. Kadang-kadang aku benci dengan ucapan, “Lho, ini lho tinggal gini aja,” atau “Ini lak gampang se.” Kalimat-kalimat itu membuatku ingin berteriak, “Iya, gampang buat kamu,” atau “Iya deh yang pinter, hzz.”
Dalam kasus lain, aku sering iri (atau nggak suka, kadang-kadang) ketika ada orang yang pinter di semua, I mean SEMUA, pelajaran termasuk yang menjadi spesialisasiku. Termasuk satu-satunya pelajaran yang aku bisa. Rasanya sakit ketika ada orang yang pinter segala mata pelajaran dan dia menjawab semua pertanyaan di kelas pelajaran yang aku bisa, rasanya tuh kayak… ya ampun, aku ga punya mapel lain yang bisa kubanggakan lho, aku juga pingin rek pinter kayak kamu tapi plis, aku juga pengen maju dan jawab pertanyaan, meskipun cuma di satu pelajaran. Kenapa kamu yang ambil? Kamu toh bisa menjawab pertanyaan lain di kelas matematika atau bahasa, wes emploken iku, tapi lho… cuma di satu mata pelajaran aja… dan kamu mengambil semuanya. (oke, I refer this to a person. Satu orang saja, tapi itu sudah cukup membuatku sakit hati). Oke, kamu punya hak untuk menjawab, tapi kan kamu pintar di segala hal jadi… ah sudahlah lupakan. Rasanya aku cuma berputar-putar.
Jadi terkadang aku mikir, “Orang yang pinter gak bakal pernah ngerti.”
Kamu boleh bilang saya picik. Terserah. Saya sedang marah, saya sedang sedih dan kecewa. Mungkin saya akan menyesali tulisan ini di kemudian hari, tapi inilah yang saya rasakan saat ini. Kesal. Marah. Sedih.
Kuulangi lagi, saat orang-orang begitu mudah untuk mendapatkan apa yang aku inginkan dan perjuangkan. Saat aku harus struggle dan mereka bahkan ketawa-ketiwi sambil ongkang kaki (ini kiasan) dan mendapat hasil yang lebih bagus dariku. Rasanya. gak. adil.
Temenku pernah bilang sekali, “Lho ul, kamu kan gak pernah tahu apa yang mereka perbuat selama kamu ga liat. Mungkin di rumah, mereka belajar lebih keras daripada yang terlihat di sekolah.” Yang ini nggak akan aku bantah. Dia benar.
Tapi ya itu tadi… ketika mereka cuma butuh baca sekali dan ngerti. Rasanya menyebalkan sekali.
Ah ga tau ah. Akhirnya aku cuma bisa menghibur diri: “Hardwork beats talent.”
Karena aku ga punya apa-apa, aku ga bisa apa-apa, dan aku ga pinter apa-apa, maka yang bisa aku lakukan cuma kerja keras.
Wes iku tok
bye.
(nb. Butuh pencerahan. Siapa saja, tolong saya. Saya benci ngerasa minder kayak gini. Terima kasih)