ulaaidesu

Peter Pan

Ada sosok yang muncul dari langit malam itu. Ia

melambaikan tangannya dan berseru

“Ayo, ikut denganku.”

Aku pun menjejak di jendela dan 

terjatuh

Dan ibu hanya mendengus sambil 

mengacungkan sapunya tinggi-tinggi

Katanya: aku sudah bukan anak kecil lagi

Gyahahahaha

Susah ya

This Friend

Ketika aku melihat gambarnya dan tercekat untuk sepersekian detik.

Aku kehilangan waktu-waktu menggambarku, dan dia masih memilikinya.

Sambil terus mengamati gambarnya, aku berpikir.

“Must be nice to be free.”

*

Untukku, kau adalah partner yang amat menyenangkan.

Kita tak pernah bercakap-cakap, tapi ketika aku melihat gambarmu, aku seperti tertarik ke dalamnya dan merasakan kesenangan yang luar biasa. Imajinasimu mengembara liar dan goresan-goresan tintamu mempertajam segalanya. Kita tak pernah bertemu namun aku melihat dirimu dalam setiap gambarmu. Selalu ada sensasi tersendiri ketika mataku menangkap gambarmu dalam layar ponselku.

Kupikir kita sama.

Saat lulus sekolah, kupikir aku akan terus menggambar. Kaupun demikian. Namun setelah sekian lama, aku tertarik oleh realita—melayang-layang dan hidup di dalamnya. Aku menikmatinya. Aku suka hidupku yang sekarang. Hidupku yang sekarang begitu menyenangkan. Kupikir tidak ada yang lebih baik daripada ini.

Lalu kemudian aku melihat gambarmu.

Kau masih menggambar. Rupanya kau masih menggambar. Aku terpaku. Seketika aku ingat masa-masa ketika aku masih menjadi seorang pelajar yang bebas, yang masa bodoh dengan masa depan, yang menggambar untuk bersenang-senang. Ketika aku sadar bahwa aku telah berusaha keras untuk bertahan pada realita dan kaupun masih bergelung nyaman dengan imajinasimu, dan tersenyum kecil di dalamnya.

Aku meneguk ludah.

Aku berpikir, apakah dia tidak punya kesibukan lain, apa ia tidak bekerja, apa ia tidak melakukan sesuatu yang besar dalam kehidupannya, dan aku kembali melihat gambarnya.

Sepertinya tidak.

Aku mengamati gambarnya dan berpikir… sepertinya kamu masih kamu yang dulu. Kamu yang tidak peduli. Kamu yang mahir sekali menggambar. Kamu yang… pernah membuatku amat bersemangat menggambar.

Aku mengamati gambarnya tanpa ekspresi.

Reply

“Hei, bagus banget. Gimana tuh cara bikinnya?”

Send.

danceabletragedy:

Rafflesia Arnoldii

Rafflesia arnoldii is the world’s largest flower having a diameter of about one meter and weighing up to ten kilograms. It is a rare flower and not easily located. It grows only once a year and blooms for around five days. According to researches in discovery news, this flower that looks and smells like rotting flesh is related to flimsy flowers like violets, poinsettias and passionflowers. Hence it also called as “meat flower” or “corpse flower”. The flower is pollinated by flies and carrion beetles attracted by its vile smell. It contains about 27 species and found in Indonesian rain forests of southeastern Asia and Philippines. Rafflesia is an official state flower of Indonesia, Surat Thani Province in Thailand and Sabah state in Malaysia.

via beingindonesian / 2 months ago / 30,342 notes /
via leilockheart / 2 months ago / 1,821 notes /
via leilockheart / 2 months ago / 498 notes /
did-you-kno:


Source

It will be scary if they were in a bigger size… It looks like some monstrous insects that usually show up in fictional films…

did-you-kno:

Source

It will be scary if they were in a bigger size… It looks like some monstrous insects that usually show up in fictional films…

via did-you-kno / 2 months ago / 4,576 notes /
via did-you-kno / 2 months ago / 5,906 notes /
My first proper artwork after so long. Done in Sai.
© ulaai 2012

My first proper artwork after so long. Done in Sai.

© ulaai 2012

And Life is Just Unfair

Aku kecewa. Aku kecewa.

Lebih tepatnya, aku marah sama diriku sendiri.

Rasanya tuh kayak bangun istana pasir yang baguus banget, trus ketika kita bermaksud untuk ngambil lebih banyak pasir, kita berdiri, terpeleset, dan menimpa hasil kerja keras kita. Menghancurkannya begitu saja. Meskipun kita tidak sengaja.

Well, aku belajar. Sungguh, aku belajar—lebih lama dari beberapa orang yang kutahu. Aku mengerjakan tugas. Aku menyelesaikan semua tugasku di rumah—lebih cepat dari beberapa orang yang kutahu. Aku bermaksud merencanakan semuanya ketika beberapa orang yang kutahu bilang, “Halah, ngapain sih kayak gitu, santai aja kali.” Aku benar-benar ingin mendapatkan nilai yang bagus ketika beberapa orang yang kutahu begitu mudah untuk mendapatkannya. Ketika mereka bahkan masih punya waktu untuk berjalan-jalan di malam sebelum hari ujian. Ketika mereka bahkan tidak perlu berusaha apa-apa… untuk mendapatkan apa yang aku sangat, sangat inginkan dan perjuangkan. Perasaan ini begitu menyebalkan.

Kadang-kadang aku merasa hidup ini nggak adil. (Oh ok, mungkin aku salah, tapi aku sedang tidak mood untuk membahasnya). Dalam kasusku, orang-orang berotak encer kadang-kadang cukup menyebalkan. Kayak, mereka cuma butuh baca buku sekali untuk memahami sesuatu, sedangkan aku harus berkali-kali, tanya sana-sini, dan itupun belum cukup untuk mencapai tingkat yang setara dengan mereka. Kadang-kadang aku benci dengan ucapan, “Lho, ini lho tinggal gini aja,” atau “Ini lak gampang se.” Kalimat-kalimat itu membuatku ingin berteriak, “Iya, gampang buat kamu,” atau “Iya deh yang pinter, hzz.” 

Dalam kasus lain, aku sering iri (atau nggak suka, kadang-kadang) ketika ada orang yang pinter di semua, I mean SEMUA, pelajaran termasuk yang menjadi spesialisasiku. Termasuk satu-satunya pelajaran yang aku bisa. Rasanya sakit ketika ada orang yang pinter segala mata pelajaran dan dia menjawab semua pertanyaan di kelas pelajaran yang aku bisa, rasanya tuh kayak… ya ampun, aku ga punya mapel lain yang bisa kubanggakan lho, aku juga pingin rek pinter kayak kamu tapi plis, aku juga pengen maju dan jawab pertanyaan, meskipun cuma di satu pelajaran. Kenapa kamu yang ambil? Kamu toh bisa menjawab pertanyaan lain di kelas matematika atau bahasa, wes emploken iku, tapi lho… cuma di satu mata pelajaran aja… dan kamu mengambil semuanya. (oke, I refer this to a person. Satu orang saja, tapi itu sudah cukup membuatku sakit hati). Oke, kamu punya hak untuk menjawab, tapi kan kamu pintar di segala hal jadi… ah sudahlah lupakan. Rasanya aku cuma berputar-putar.

Jadi terkadang aku mikir, “Orang yang pinter gak bakal pernah ngerti.”

Kamu boleh bilang saya picik. Terserah. Saya sedang marah, saya sedang sedih dan kecewa. Mungkin saya akan menyesali tulisan ini di kemudian hari, tapi inilah yang saya rasakan saat ini. Kesal. Marah. Sedih.

Kuulangi lagi, saat orang-orang begitu mudah untuk mendapatkan apa yang aku inginkan dan perjuangkan. Saat aku harus struggle dan mereka bahkan ketawa-ketiwi sambil ongkang kaki (ini kiasan) dan mendapat hasil yang lebih bagus dariku. Rasanya. gak. adil.

Temenku pernah bilang sekali, “Lho ul, kamu kan gak pernah tahu apa yang mereka perbuat selama kamu ga liat. Mungkin di rumah, mereka belajar lebih keras daripada yang terlihat di sekolah.” Yang ini nggak akan aku bantah. Dia benar.

Tapi ya itu tadi… ketika mereka cuma butuh baca sekali dan ngerti. Rasanya menyebalkan sekali.

Ah ga tau ah. Akhirnya aku cuma bisa menghibur diri: “Hardwork beats talent.” 

Karena aku ga punya apa-apa, aku ga bisa apa-apa, dan aku ga pinter apa-apa, maka yang bisa aku lakukan cuma kerja keras.

Wes iku tok

bye.

(nb. Butuh pencerahan. Siapa saja, tolong saya. Saya benci ngerasa minder kayak gini. Terima kasih)

 
Next »



Page 1 of 12
Theme by maggie. Runs on Tumblr.